Di Balik Frekuensi

1 Maret 2013 at 5:01 pm (opini)

Ga sia-sia hantem macetnya Jakarta demi cari Reading Room di daerah Kemang. :p

Film bagus. Jauh sebelum nonton ini film, sebetulnya gua udah sadar kalau ada yang ngga beres dalam ‘media’ di negeri ini. Film itu semakin mengkuadratkan persepsi gua tentang dunia media jurnalistik negeri ini.  Ga cuma soal media, film ini juga mengangkat kasus ketenagakerjaan yang dialami oleh Ucu Luviana. Jurnalis eks. Metro TV yang di PHK karna buka suara menuntut kesejahteraan. Juga mengangkat betapa bangsatnya Hari Kuswandi, jalan kaki dari porong ke Jakarta, berulang kali usir wartawan TvOne yang dianggaponya selalu menyebarkan berita bohong untuk akhirnya nangis-nangis di TvOne juga minta maaf ke bakri yang kemudian dipercayanya dapat bertanggung jawab pada lumpur lapindo, -eh Sidoarjo. Jujur, dia layak mati. Karna dimana-mana, pengkhianat layak mati.

Kasian mereka para penikmat tell lie vision, dibodohin dengan berbagai kepentingan. Para jurnalis pun mengakui, kalau kadang mereka kerja atas pesanan, atas perintah dari atasan yang juga dari pesanan. Berita yang ada jadi ga imbang, jurnalistik yang harusnya jadi corong kebenaran seolah sirna. Apa masih ada jurnalis yang idealis? Mungkin ada, tapi sedikit. 11-12 sama nasib apa di pemerintahan koruptor semua? Ngga, tapi ga banyak juga.

MetroTV dan TvOne dimiliki 2 orang yang memiliki ambisi di negeri ini. Surya Paloh dan Aburizal Bakrie, dan 2 televisi itu pula yang seakan saling menyerang, saling mengangkat pemiliknya masing-masing. TvOne menyoroti kasus Ucu Luviana, jurnalis yang di phk MetroTv, MetroTv menyerang dengan memberitakan derita korban lumpur lapindo. TvOne ngeles, berita tentang ganti rugi yang sudah rampung disorot, tentang penduduk yang seyum karna dapet ganti rugi. Dan lagi.. lagi.. lagi.. Siapa yang rugi? Jelas: penonton.

So, masih percaya sama tell lie vision? Gua sih ngga, dan hampir setaun belakangan ini emang udah ga pernah sengaja nyalain tv. Gua muak sama tv. Selain beritanya itu-itu aja, entertainment nya juga membodohi.  Ditambah informasi dari ‘Di Balik Frequensi’ makin ga sreg aja nontonnya. Kasian mereka yang bergantung pada tell lie vision,  rela dibodohin sedemikian rupa. Lagi-lagi ga 100% sih semua yang ada di tv itu sampah, tapi ga banyak juga yang bermanfaat.

Anyway, busuknya ga cuma media jurnalistik aja yang ditunggangi berbagai kepentingan. Kenal @triomacan2000 yang dimata gua justru ngejual kebenaran. Gila kan Indonesia, kebenaran aja dijadiin komoditi. Agama pun cuma jadi komoditi. #ups

Soal kasus Luviana, kasian juga ibu yang satu itu. Cuma karna mempertanyakan kesejahteraan hidupnya, pada korporasi yang menyerap tenaganya malah akhirnya kena PHK. Lagu lama kaset kusut. Jadi inget lagu ‘Robot Bernyawa’ nya Iwan Fals. Entah kapan lagu itu terbit, mungkin tahun 80’an tapi masih relevan sekali dengan kasus Luviana ini -ga gua yakin ga cuma Luviana, masih banyak pihak yang ketika bertanya kesejaterannya justru berujung phk

Jangan bertanya jangan bertingkah
Robot bernyawa teruslah bekerja
Sapi perahan dijaman moderen
Mulut dikunci tak boleh bicara
Didepan pabrik minta keadilan
Hanyalah janji membumbung tinggi
Tuntutan mereka membentur baja
Terus bekerja atau di PHK 

Robot Bernyawa

Lagu lama kaset kusut banget kan? Apakah salah Luviana mempertanyakan kesejahteraan pada tempat dimana (mungkin) dia bakal kasih seluruh kemampuannya? Gua rasa ngga. Salah MetroTV menonjobkan sampai pada akhirnya mem-PHKnya? Ini buat gua 50-50.  Sederhananya begini, anggaplah pekerja yang mau nego gaji, pekerja minta 10 tapi pengusaha cuma sanggup kasih 6. Keputusan finalnya justru ada di pekerja itu sendiri. Mau terima atau ngga. Sederhana kan? tapi bakalan jadi ribet, ketika pekerja itu kemudian mengajak pekerja lainnya dan pekerja lain itu juga jadi ikut-ikutan menuntut. Itu akan menciptakan ketidakstabilan operasional dan berpotensi mengurangi jumlah rupiah yang setiap tahunnya disebut sebagai laba -dan ini adalah point paling penting di setiap korporasi.  Bagi para pengusaha, provokator itu layak dibumihanguskan.

Ada ga sih peraturan di negeri ini yang mengatur kalau pekerja juga sebagai pemegang saham. Jadi tanpa perlu naik gaji pun, kalau untung perusahaan naik gaji jelas naik. kalau turun, pekerja juga mesti bertanggung jawab atas kinerjanya. Ga perlu banyak, tapi setidaknya nilai lebih dari kinerja pekerja ga dimakan semua sama pemilik modal. Sederhana kan?

Ga semua orang pingin punya rumah mewah, mobil mewah atau segala kemewahan yang media tawarkan setiap hari. Tapi setiap orang jelas butuh sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan. Ketika semua itu bisa terpenuhi, jelas udah bisa dibilang sejahtera dan negara pun pasti aman dari keluhan. tapi kenyataanya? Sakit mahal, rumah mahal, sekolah mahal. Siapa sih yang ga mau anaknya punya masa depan cerah? dan kecerahan masa depan itu dijamin dari lingkungan, pendidikan dan kesehatan. Negara udah kasih itu semua? absolut belum.

Dan dari durasi 2jam lebih nih film, kesimpulan sederhana yang gua dapet itu: ujung-ujungnya perut. Surya Paloh mungkin ga kenal siapa Luviana dan ga tau sistem penggajian mereka. Tapi Luviana kenal dan jelas untuk minta naik gaji harus ngomong ke atasanya dan  atasannya punya atasan lagi, dan lagi terus sampai akhirnya ke Surya Paloh.  Dan ketika Surya Paloh menolaknya -atau mungkin bahkan belum sampe ke Surya Paloh udah ditolak. Dan akhirnya keputusan itu turun sampe akhirnya ke Luviana. Masih sounding juga, dipecatlah akhirnya.

Jurnalis satu korporasi pun enggan berkomentar, ketimbang senasib sama Luviana.  Atasan Luviana pun enggan mendukung Luviana karna takut senasib sama Luviana. Dan masih banyak pihak lagi yang berkeputusan cari aman aja. Demi apa? Demi perut, ogah senasib sama Luviana. Tapi temen-temen jurnalis lain dari AJI tetap mendukung kan, mungkin karna mereka ga satu korporasi dengan Luviana. Coba kalo ditempat kerja mereka, apa berani? ah sudahlah, jangan su’udzon.

Lalu apakah film ini juga punya kepentingan yang berujung karna bentar lagi kan pemilu presiden dan 2 orang ‘pemeran utama’nya kan ikut pemilu nantinya? Cuma Tuhan dan mereka yang tau, tapi yang pasti gua percaya para produser dan sutradaranya sebagaimana gua percaya sama Joko Widodo membangun Jakarta.

Oya, soal Hari Kuswandi speechless gua. Semoga Tuhan melaknatnya dalam pekat lumpur lapindo -eh, Sidoarjo.

Iklan

1 Komentar

  1. mpokb said,

    Wa, belum nonton film menarik ini.. Kalo nggak salah ada di youtube kan ya..?
    Setahu aye, sebagian perusahaan ada yang kasih saham ke pegawainya. Dulu waktu masih gawe di kumpeni, aye dapet pembagian saham juga, tapi belakangan dijual soalnya ada perlu hehehe…. :”>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: