Kemarin, Hari ini dan Selamanya: Rock Together

5 Maret 2013 at 11:40 pm (opini)

Super Glad, nama yang mungkin udah gua kenal sebagai grup band tanpa pernah tau siapa dan bagaimana jenis musiknya. Tapi lewat film ini, satu kata buat mereka: salute! juga buat film makernya. 🙂

Jelas bukan band kacangan dan kalo gua bandingin dengan band cengeng sekelas kangen band, itu berarti gua ngehina Super Glad. Super Glad dibangun ga sekedar untuk cari uang, walau mereka pun mengakui dan menyesali ada saat dimana mereka harus ngikutin pasar atas nama perut -efek berumah tangga kalo kata mereka. Pada akhirnya kembali pada hatinya.

Band yang ga cuma sekedar cari uang, yang menurut mereka bahkan materi yang mereka dapatkan dari band itu belum seberapa kalo dibandingin dengan kepuasan yang mereka dapatkan. Dengan hati mereka bernyanyi. Dari dibayar sekian belas kaleng bir sampai terima puluhan juta rupiah sekali manggung.

Egaliterianisme mereka terapkan. Player, crew, management bahkan fans mereka setarakan. Semua sama. Satu makan tahu, semua makan tahu. Walau sempat ditegor ketika berhubungan dengan fans, mereka harus bisa memilih: menjadi artis atau rakyat?

Mungkin band rock emang identik dengan alkohol. Giox yang terlihat sangat menyayangi alkohol dan mengangap bass adalah tititnya, pun harus rela kehilangan satu crew yang diandalkannya. Gua lupa nama crew itu, meninggalkan dunia ini lebih dulu. Dan itu sangat amat Giox sesali. Konyolnya, Giox bilang cuma karna meki!. Susah emang kalo udah berhubungan dengan selangkangan. Dan uang kadang selalu bertetanggaan dengan selangkangan. Walau gua ga tau pasti, selangkangan ini berhubungan ga dengan uang -minimal dengan putaw. Dan semua player terlihat sangat ‘menyayangi’ crew mereka.

Candaan mereka pun terlihat absurd. Dari mulai cium-ciuman pipi sampai dengan ada yang saling menikmati pegang-pegangan pantat -entah itu cuma bercanda atau engga, sabodo teuing. Bahkan, Bulux sang vokalis ternyata punya kebiasaan main judi dan yang terparah adalah suka telanjang memamerkan tititnya!

Awalnya gua pikir itu adalah candaan internal mereka, tapi ternyata dilakuin juga ketika manggung! Bayangin aja, main gitar sambil nyanyi sambil mamerin tititnya diatas panggung! Rock n roll banget kan?? sadis. Gua pun ga bisa ngebayangin ngelakuin itu semabok-maboknya. :p

Tau konsep Yin Yang? Diatas hitam ada putih, diatas putih pun ada hitam. Ga ada yang absolut hitam atau putih. Begitupun Bulux sang vokalis, semetal-metalnya dia tapi tetap bisa nangis ketika merindukan mendiang istrinya. Entah karna apa tewasnya, tapi yang pasti gua pun ngerasain kerinduan yang Bulux rasain ketika mengunjungi makam mendiang istrinya itu. Bahkan, ketika menyanyikan satu lagu yang mungkin dibuat untuk sang mendiang istri, dihadapan penonton Bulux tetap menangis walau ragu. Menangisi orang yang terkasih bukanlah sebuah aib.

Anyway, nape gua jadi sedikit melakolis gini pas inget adegan itu :p

Yang pasti ini film bagus banget, terlebih buat mereka yang mengaku rock n roll.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: