Madre

29 Maret 2013 at 10:19 am (opini)

Pertama liat trilernya, jujur agak mengecewakan. Karna gua pikir ga sesuai dengan yang ada di novelnya. Tan Sen, diperanin sama Vino Sebastian dengan gimbal yang janggal (ketara wig banget) agak sedikit turun ‘wibawa’nya :p. Ditambah dengan Mei, yang dari trilernya aja kurang Chinesse buat gua mah. Malah cenderung kejawaan. Dan ternyata emang bener, cerita di filmnya adagk berubah dengan yang ada di novelnya.

Setelah memaksa cewe gua untuk langsung nonton film itu, melucurlah gua ke Atrium Senen yang ternyata harga tiket bioskopnya naik -untung baru gajian :p.

Agak sedikit kecewa sih dengan cerita di filmnya yang melenceng. Tan Sen, berubah karakternya. Di benak gua dari novelnya, Tan Sen itu cenderung pendiam, tapi di filmnya berubah jadi agak cengengesan walau tetap urakan. Ya, untung berubah karakternya, sebab kalo ngga, gua rasa karakter Tan Sen dalam benak gua itu ga pantes diperanin sama Vino. jadi agak sedikit ‘cemen’.

Mei. gua ngabayanginnya cantik banget. High class dan Chinesse. Dan di filmnya pun cantik banget, dan ternyata wajah orientalnya pun ada. Awalnya gua liat ko kejawa-jawaan, tapi setelah diliat dengan seksama ternyata punya wajah oriental yang khas dan kental. Senasib sama Tan Sen, agak berubah karakternya. Ga segesit dari yang ada di novelnya.

Ya.. film ini tuh gua bilang ga bisa dibilang ‘diangkat’ tapi lebih tepatnya ‘;disadur’ dari novelnya. Para jompo di balik toko roti Tan De Bakker pun berubah karakternya. Mungkin ini improvisasi. Lah Madre kan cuma cerpen. Singkat. Dan ketika dijadiin film mungkin memang harus digituin. Diperpanjang. Jadi tambah sana tambah sini. Ga ada Mei sampe nyemperin Tan Sen di Bali. Ga ada pemain biola yang mendadak minta Tan de Bakker idup lagi. Ga ada Tan Sen ikutan meeting. Ga ada cerita kalo Mei sebetulnya udah mau nikah. tapi yang pasti, kisah cinta antara Tan Sen dan Mei memang agak sedikit ngegantung. Baik di novel atau di filmnya, keliatan banget kalo masih gantung.

Overall, secara film ini bagus. Karna ini gua bilang disadur dari novel Madre, jadi ga rasa ga bisa banding apple-to-apple antara novel dan filmya. Tapi jujur, gua ngeliat film Perahu Lertas ko agak aneh yah. Pake acara di sekuelin pula.

Mungkin emang susah yah bikin film yang diangkat dari novel agar bisa sempurna sesuai novelnya. Lagian kan emang beda, antara baca dan visual. bayang benak orang tuh beda. Jadi gua rasa, kekecewaan gua kalo liat film yang diangkat dari novel (yang udah gua baca tentunya) karna apa yang gua bayangin tuh berubah. Sama halnya kaya kalo kita mau sesuatu, tapi sesuatu itu ga sesuai dengan yang kita harapkan. Pasti ada sedikit kecewa.

Iklan

1 Komentar

  1. Raf said,

    Saya selalu kecewa sama novel yg kemudian diadaptasi jadi film. Dari V For Vendetta, Fight Club hingga Battle Royale, hasilnya sama: ada hal yang ter-reduksi dari versi novelnya dan akhirnya idenya gak nyampe ke penonton film. Dan Madre ini, melengkapi kekecewaan saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: