Kenapa Jokowi.

7 Juni 2014 at 11:22 pm (opini)

Ini pernyataan, bukan pertanyaan. Karna satu alasan sederhana: Indonesia butuh perubahan. Cukup sudah generasi tua mengacak-acak bangsa ini sampai keakar-akarnya, masih mau nerusin generasi macam itu? Gua sih ngga. Karna cuma ada 2 kandidat presiden, gua anggap ini pertarungan antar generasi. Generasi tua yang “takut” pada perubahan yang akan dibawa generasi muda.

Jokowi lahir dari kelas rakyat, bukan dari kalangan bangsawan bermental raja. Diluar itu, dengan mata kepala sendiri gua liat Jakarta jadi lebih baik, walaupun belum maksimal tapi sudah terlihat kearah menjadi lebih baik lagi. Dari mulai hal sederhana soal bangku taman sampai ke penanggulangan banjir. Jalan protokol banyak yang ditinggiin, yang walaupun banjir tapi tetap masih bisa dilewati. Kali kali banyak yang dikeruk, pemukiman pinggir kali banyak mulai diberesin. Pemukiman padat penduduk diberi subsidi untuk renovasi rumah agar lebih layak lagi. Hiburan rakyat yang benar benar diperuntukan untuk rakyat. Birokrasi diberesin sampai ke tingkat rt/rw. Mungkin masih banyak lagi yang ga keliatan sama gua, tapi… Dari sedikit yang terlihat itu, cukup sudah untuk mempercayai Jokowi memimpin bangsa ini. 

Diluar prestasi itu, gaya kepemimpinan Jokowi keren buat gua mah. Karna mungkin dari kelas rakyat, jadi memimpinnya ya dengan gaya rakyat juga yang ga pake jumawa ataupun gengsi hirarki. Sedangkan kita sama-sama tau, ga usah jauh jauh liat gaya seorang Gubernur deh, coba liat gaya PNS di pelayanan publik yang seolah olah berkata “lo yang butuh gua”, jadi jutek, judes, masam, itu hal yang biasa terjadi. Terlebih untuk kelas jelata, kadang bikin sakit hati.

Denger denger, katanya Jokowi sudah mulai merobak pelayanan publik dengan gaya pelayanan Bank, dimana semua petugasnya bisa ramah dan menebar senyum yang mungkin walaupun atas nama standart operational procedure, tapi tetep seneng aja kali dapet pelayanan yang ramah begitu.

Kalau pelayana di tingkat keluarah bisa bener bener beres macam itu, gua yakin mereka para pns pun perlahan mulai bisa ke arah yang lebih profesional lagi. Ya, lebih profesional lagi yang semakin sadar bahwa kenaikan pangkat bukanlah dari relasi ataupun family, tapi lebih ke kinerja. Kita sama sama tau lah, ga usah di dunia PNS, di kalangan swasta aja ada semacam tradisi kolusi dimana bukan kinerja yang dinilai, tapi lebih ke relasi-family. Jadi kadang harus menjilat ataupun menyuap. Dan konyolnya, itu jadi tradisi yang seolah olah diamini oleh banyak orang.

Ditengah karut marut tatanan sosial dan birokrasi di negeri ini, Indonesia butuh revolusi mental.

Iklan

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar